Di kafe-kafe yang bising di sekitaran Jakarta Selatan atau di sela-sela padatnya gerbong KRL rute Bekasi, sesuatu yang "aneh" sedang terjadi. Di tengah lautan kepala yang menunduk menatap layar bercahaya, Anda akan menemukan satu atau dua orang yang memegang benda dari masa lalu, ya, sebuah buku fisik. Mereka membalik halaman dengan tangan, menandai pojok kertas, dan tidak terganggu sedikit pun oleh notifikasi yang biasanya mengatur hidup kita. Sekilas, ini tampak seperti tren gaya hidup vintage atau hanya sekadar aksi pamer intelektual di media sosial. Namun, jika kita melihat lebih dekat, fenomena ini adalah sebuah anomali yang mulai konsisten.Bagaimana mungkin benda yang "berat", tidak memiliki fitur search, dan butuh pencahayaan manual ini bisa bertahan — bahkan mulai kembali diminati — di era di mana semua informasi dunia tersedia dalam satu jentikan jari? Pertanyaannya, adakah yang memicu fenomena ini? Apakah kita sedang menjadi saksi dari sebuah bentuk perlawanan diam-diam terhadap tirani algoritma media sosial? Atau ada sesuatu yang lebih mendalam lagi sedang terjadi di dalam otak kepala kita saat jemari kita menyentuh tekstur kertas?
Jawabannya ternyata lebih menarik daripada sekadar masalah perubahan budaya. Dari penelitian yang dilakukan di Emory University, ada temuan yang berbeda. Para peneliti menemukan bahwa proses membaca novel secara mendalam adalah peristiwa biologis. Dan ini dibuktikan dengan memanfaatkan teknologi Magnetic Resonance Imaging atau MRI selama 19 hari pada 21 responden. Ringkasnya, saat seseorang membaca, ia masuk ke dalam sebuah aliran narasi yang panjang; terjadi perubahan konektivitas di sekitar bagian otak yang mengelola bahasa dan sensorimotorik. Hebatnya lagi, perubahan ini tetap tersimpan meskipun halaman buku telah ditutup. Efek biologis dari perubahan ini tetap bertahan selama beberapa hari ke depan. Otak kita secara harfiah "ditulis ulang" sementara, membuat kita seakan-akan merasakan pengalaman fisik dari karakter dalam cerita melalui mekanisme embodied semantics.
Sehingga fenomena yang terlihat seperti tren nostalgia saat orang-orang kembali memegang buku di tempat umum. Sebenarnya, itu adalah upaya kita untuk mengembalikan fungsi kognitif untuk fokus secara mendalam, kembali ke buku. Buku adalah solusi teknologi untuk memulihkan kontrol pada otak kita sendiri. Kecanggihan masa depan terjungkal oleh lembaran-lembaran kertas yang dibundel menjadi buku, sebuah artefak dari masa ratusan tahun lalu.
References
Berns, G. S., Blaine, K., Prietula, M. J., & Pye, B. E. (2013). Short-and long-term effects of a novel on connectivity in the brain. Brain connectivity, 3(6), 590-600.
Sehingga fenomena yang terlihat seperti tren nostalgia saat orang-orang kembali memegang buku di tempat umum. Sebenarnya, itu adalah upaya kita untuk mengembalikan fungsi kognitif untuk fokus secara mendalam, kembali ke buku. Buku adalah solusi teknologi untuk memulihkan kontrol pada otak kita sendiri. Kecanggihan masa depan terjungkal oleh lembaran-lembaran kertas yang dibundel menjadi buku, sebuah artefak dari masa ratusan tahun lalu.
References
Berns, G. S., Blaine, K., Prietula, M. J., & Pye, B. E. (2013). Short-and long-term effects of a novel on connectivity in the brain. Brain connectivity, 3(6), 590-600.
