Saya punya kenalan. Jabatannya tinggi. Keputusannya selalu didengar. Setiap masalah, dia yang selesaikan. Setiap keputusan, dia yang ambil. Setiap proyek, dia yang memimpin. “Biar cepat,” katanya. “Biar benar,” tambahnya.
Saya diam saja.
Tahun demi tahun berlalu. Timnya tetap sama. Tidak ada yang berkembang. Tidak ada yang dilatih. Tidak ada yang disiapkan. Sampai suatu hari, dia pensiun.
Perusahaan panik.
Tidak ada yang bisa menggantikannya. Timnya bingung. Banyak yang tidak siap. Keputusan-keputusan terhambat. Hasilnya? Kacau.
Saya masih diam.
Lalu saya lihat, bos barunya datang. Satu pertanyaan pertama yang dia ajukan: “Kenapa tidak ada yang siap menjadi penerus?”
Saya tersenyum.
Karena pemimpin sejati bukan hanya menyelesaikan pekerjaan. Tapi juga menyiapkan orang lain untuk bisa menggantikannya. Kalau semua tergantung pada satu orang, itu bukan kehebatan. Itu kelalaian. Dan kalau tidak mau menyiapkan penerus, maka keberhasilannya hanya bertahan selama dia ada.
Setelah itu? Hilang begitu saja.